Benarkah Biodiesel Ramah Lingkungan?

Akhir th. lalu, Presiden Joko Widodo meresmikan implementasi biodisesel 30 persen (B30) di keliru satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta.  Presiden menghendaki PT Pertamina (Persero) untuk memacu BBM sejenis dengan kadar nabati dan solar.

Alasannya, terkecuali BBM biodiesel ditingkatkan, maka dapat kurangi defisit neraca perdagangan Indonesia. Selain itu, pemerintah termasuk udah memiliki rencana meningkatkan pemanfaatan bahan bakar biodiesel sampai B100 di masa depan. B30 merupakan campuran bahan bakar solar dengan Fill Rite Flow Meter dengan 30 persen Fatty, Acit, Metil, Eter (FAME) diolah dari minyak sawit yang didapatkan dari kelapa sawit.

Selain kurangi defisit neraca perdagangan Indonesia, biodiesel termasuk digadang-gadang memicu emisi kendaraan lebih ramah lingkungan.

Namun di segi lain, para aktivis lingkungan menyebut kelapa sawit adalah keliru satu pendorong utama rusaknya hutan hujan tropis. Dilansir dari News Decoder, lebih dari separuh deforestasi di Kalimantan dikaitkan dengan produksi minyak sawit. Meskipun terlihat “hijau”, perkebunan kelapa sawit menyerap karbon jauh lebih sedikit daripada hutan asli dan merusak keanekaragaman hayati.

Pembukaan lahan untuk budidaya kelapa sawit berkontribusi terhadap kabut asap kebakaran hutan yang merusak kesehatan dan mempercepat pemanasan global lewat emisi gas rumah kaca. Di segi lain, minyak sawit merupakan komoditas yang kala ini dibutuhkan di dalam kehidupan sehari-hari manusia.

Minyak yang serbaguna Kelapa sawit murah untuk diproduksi dan membuahkan minyak lima sampai delapan kali lebih banyak per hektare daripada tanaman minyak lainnya layaknya kedelai, bunga matahari, dan lobak. Produk turunan ditemukan di dalam segala hal jadi dari makanan olahan, kosmetik, sabun, deterjen, lebih-lebih bahan bakar. Sebagai perbandingan, kurang lebih 5 persen product yang dijual di supermarket mempunyai kandungan minyak sawit.

Minyak sawit dapat memicu keripik kentang lebih renyah, sabun dan deterjen lebih berbusa, lipstik lebih halus, dan kudapan lebih renyah. Menanggapi bermacam manfaat dan keinginan pasar yang terus meningkat, budidaya kelapa sawit global cukup meningkat, dengan 75 persen dari produksi diperdagangkan secara internasional. Industri minyak sawit global, senilai 65,73 miliar dollar AS (Rp 968 triliun) terhadap 2015 diproyeksikan capai 92,84 miliar dollar AS (Rp 1.367 triliun) terhadap 2021.

Di Afrika dan Asia Tenggara, industri kelapa sawit menciptakan lapangan kerja, memperluas basis pajak perusahaan dan mendorong investasi sosial di masyarakat agraris yang miskin.

Deforestasi Indonesia dan Malaysia menyumbang 85 persen dari industri minyak sawit global sebagaimana dilansir dari The Brenthurs Foundation. Perluasan lahan perkebunan kelapa sawit memicu hilangnya keanekaragaman hayati hutan tropis dengan laju yang sangat menyedihkan lebih dari 1 persen per tahun.

Perambahan luas perkebunan kelapa sawit skala besar ke di dalam habitat hutan udah memicu populasi orangutan, gajah, badak, dan harimau di Asia Tenggara diklasifikasikan sebagai “terancam punah” atau “sangat terancam punah” di dalam daftar merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).

Masa depan Orangutan Sumatera yang sangat terancam punah, yang udah jadi simbol gerakan anti-kelapa sawit, jadi semakin tidak pasti. Antara 2001 dan 2018, kurang lebih 26 juta hektare hutan di Indonesia udah hilang. Dengan hilangnya hutan, serapan karbon dapat jadi berkurang dan jadi memperburuk gas rumah kaca dan mempercepat pergantian iklim. Di Kalimantan saja, sebuah pulau yang wilayahnya terbagi untuk Indonesia dan Malaysia, terhubung 26 juta hektare hutan pada th. 2000-2018.

Dalam hal pengejaran kelapa sawit, perselisihan pada pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan udah lama muncul. Meningkatnya keinginan minyak sawit yang tidak berhenti dapat semakin mendorong deforestasi, memicu hilangnya keanekaragaman hayati, mengancam kepunahan spesies flora dan fauna yang tak termasuk jumlahnya. Flora dan fauna yang hidup di hutan tropis tidak dapat hidup di dalam monokultur pohon sawit, dan penurunan jasa ekosistem.

Degradasi cepat dari penyerap karbon yang menipis yang dihidangkan oleh hutan hujan tropis memicu emisi karbon yang terperangkap ke atmosfer, memperburuk bencana krisis iklim kala ini. Penolakan yang berkembang terhadap perkebunan kelapa sawit yang dipimpin oleh organisasi layaknya gerakan “bebas dari minyak sawit” yang tengah tren di kalangan milenial. Kendati demikian, masyarakat kudu sangat bijaksana.

Sebab dengan mengganti minyak sawit dengan minyak nabati lain layaknya kedelai, bunga matahari, atau lobak, mungkin dapat semakin meningkatkan alih lahan hutan yang memicu deforestasi yang lebih besar. Pasalnya, produksi minyak nabati lain layaknya kedelai, bunga matahari, atau lobak jauh lebih sedikit dibandingkan minyak sawit per hektare.