peninggalan kerajaan jenggala - kediri

Asal Usul Kediri dan Sejarahnya

Asal Usul Kediri dan Sejarahnya

Asal Usul Kediri Jawa Timur

Asal-usul Kediri yang kami sampaikan dalam artikel ini kami ambil dari berbagai sumber yang terpercaya. Jika Anda sedang mencari informasi terkait dengan sejarah dan asal-usul Kediri mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi referensi untuk Anda.

Kota Kediri adalah kota yang berada di Provinsi Jawa Timur. Memiliki luas daerah 63,4 persegi, dan berada 130 Km ke arah barat daya dari ibu kota Provinsi Jawa Timur yakni kota Surabaya. Kota Kediri masih sangat memegang erat unggah ungguh dan kebudayaan jawa, warganya yang sebagian besar adalah suku jawa.

Masyarakat Kediri memiliki adat istiadat jawa timur yang unik dan tetap melestarikan warisan budaya nenek moyangnya. Untuk selengkapnya tentang asal usul dan sejarah kota Kediri, mari kita simak ulasannya dibawah ini.

Sejarah dan Asal Usul Kota Kediri Jawa Timur

Kerajaan Kediri disebut juga Kerajaan Panjalu adalah kerajaan yang bercorak Hindu-Budha. Kerajaan yang berdiri pada tahun 1042 ini merupakan bagian dari kerajaan terbesar yaitu kerajaan Mataram Kuno, serta kerajaannya yang terletak di seberang Sungai Brantas yang merupakan jalur pelayaran Akbar pada saat itu. Sejarah Pemerintahan Kediri dikenal luas karena peristiwa penyerangan oleh Ken Arok.

Pada tahun 1019, Airlangga berhasil menjadi raja Medang Kamulan. Selama berkuasa, Airlangga berhasil mengembalikan kewibawaan Medang Kamulan dan akhirnya memindahkan pusat pemerintahan ke Kahuripan.

Pada tahun 1041, Airlangga memerintahkan agar kerajaan dibagi menjadi dua bagian. Pembagian dilakukan oleh Mpu Bharada, seorang brahmana kondang. Dua kerajaan yang terpecah itu kemudian dikenal dengan nama Jenggala (Kahuripan) dan Panjalu (Kediri) dan dipisahkan oleh Gunung Kawi dan Sungai Brantas.

Peristiwa ini kemudian diriwayatkan dalam prasasti Mahasukya, serat Calon Arang, dan kitab Negarakertagama. Meski tujuan awal Airlangga membelah kerajaan menjadi dua adalah agar tidak terjadi perebutan kekuasaan, pada praktiknya kedua putra Airlangga tetap bersaing meskipun masing-masing diberi kerajaan sendiri.

Perkembangan kerajaan Kediri menjadi ibukota yang terlalu pesat perkembangannya, sedangkan kerajaan Jenggala sebaliknya. Peristiwa ini diduga karena Jenggala ditaklukkan oleh Kediri dan bersatu kembali menjadi satu Kerajaan, namun tidak menutup kemungkinan juga Jenggala tidak meninggalkan prasasti sama sekali.

Ekspansi dan runtuhnya kerajaan kediri

Banyak yang tahu tentang awal mula sejarah pemerintahan Kediri, bahkan Prasasti Hyang II terbitan tahun 1044 oleh Pemerintah Janggala hanya menulis tentang Perang Saudara setelah Airlangga membelah Kahuripan menjadi dua, dan dia tidak lagi memerintah.

Sejarah Kediri Baru mulai dikenal dan juga keluar dari Sirah Keting atas nama Sri Jayawarsa pada tahun 1104. Padahal, untuk nama raja sebelum Sri Jayawarsa, yang baru dikenal adalah Sri Samarawijaya, sedangkan Raja Sri Jayawarsa jelas dikenal melalui prasasti.

Raja Kediri bernama Mapanji adalah yang paling penting dan dia memerintah begitu usang, akibatnya hampir tidak ada berita tentang dia. Ia kemudian menggantikan raja Mapanji Alanjung pada tahun 1052 dan Kembali digantikan oleh Sri Maharaja Samarotsaha.

Seiring berlanjutnya pertempuran antara Jenggala dan Panjalu, bukti Kerajaan ke-2 hilang selama 60 tahun, hingga akhirnya nama Raja Beswara pada tahun 1116 yang memerintah hingga tahun 1135. Saat itu, Sentra pemerintahan tidak lagi berada di Daha kecuali telah pindah ke Kediri dan sejak saat itu Panjalu lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kediri.

Runtuhnya Kerajaan Jenggala ditulis dalam parasasti ngatang pada tahun 1135. Peristiwa ini terjadi ketika Sri Jayabhaya mengatakan, dan membuat semboyan terkenal yakni Panjalu Jayati, yang berarti Panjalu adalah Menang. Pada masa pemerintahannya, Kediri juga mengalami masa keemasan dimana wilayahnya berkembang di seluruh pulau Jawa dan beberapa pulau di Nusantara.

Hal ini juga ditegaskan melalui Kronik Cina yang berjudul Ling Wai TA tahun 1178 yang ditulis oleh Chou Ku-Fei. Kronik Cina mengatakan bahwa Jawa adalah negara terkaya setelah Cina dan Arab. Diketahui bahwa Raja Jayabhaya juga seorang peramal. Semua ramalannya dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul Jongko Joyoboyo, yang di dalamnya terdapat beberapa hal, seperti Ratu Adil yang akan memerintah Indonesia.

Setelah pemerintahan Jayabhaya berakhir pada tahun 1159, Raja Sarweswara naik tahta dan memulai pemerintahannya selama 10 tahun. Sayangnya, tidak banyak informasi tertulis tentang Raja Sarweswara karena terbatasnya jumlah peninggalan yang ditemukan. Salah satu informasi tentang Raja Sarweswara adalah ia mengenakan lencana kerajaan berupa Ganesha.

peninggalan kerajaan jenggala - kediri
peninggalan kerajaan jenggala – kediri

Berdasarkan prasasti Angin yang menceritakan tentang tahun 1171, Sri Aryeswara maju untuk menggantikan Sarweswara. Tidak ada yang mengerti secara pasti kapan Aryeswara naik tahta karena kurangnya berita sejarah Kerajaan Kediri tentang Aryeswara, yang hanya diketahui lambang Kediri ketika dalam bentuk Ganesha yang permanen. Sri Ganda menggantikan Aryeswara sebagai raja pada tahun 1181 yang diketahui berdasarkan prasasti jaring. Prasasti ini menceritakan penggunaan nama fauna untuk gelar pangkat.

Sejarah Kerajaan Kediri

Pada tahun 1182, Kameswara turun tangan menggantikan Sri Gandra. Sebelum munculnya Kameswara, tidak ada kabar yang dikisahkan raja Kediri sebelumnya. Saat itu, Mpu Darmaja membuat kitab pemujaan (pemujaan) pada raja, yang disebut kakawin smaradahana. Buku Lubdaka yang menceritakan tentang pemburu yang masuk surga dan Wretasancaya yang berisi tembaga Jawa antik juga ditulis oleh Mpu Tan Alung pada masa pemerintahan Kameswara.

Raja terakhir yang berkuasa dalam sejarah kerajaan Kediri adalah Raja Kertajaya yang juga dikenal sebagai Dandang Gendis.

Itulah Sejarah dan Asal-usul Kota Kediri yang memiliki sejarah cukup panjang. Mudah-mudahan dengan informasi di atas dapat menambah wawasan serta dapat menjadi referensi untuk kita semua. Semoga bermanfaat!